Bagaimana pemenang memperoleh kemenangan. Alkisah ada seorang pria buta tinggal bersama seorang istri dan anak-anaknya. Alih-alih mengalah karena kondisinya, dia justeru memenanginya. Hidupnya selalu bersemangat, mengecat rumahnya hingga belajar naik sepeda. Saat jatuh di selokan, tangan kanannya terpaksa diamputasi. Katanya, "saya sekarang akan belajar menulis dengan tangan kiri."
Dunia selalu memunculkan tokoh-tokoh pemenang yang menginspirasi. Mereka adalah orang-orang sabar dan pemberani. Pemenang selalu menemukan kesempatan dalam setiap kesulitan, pecundang hanya menemukan kesulitan dalam setiap kesempatan, kata Art Garner, seorang motivator internasional.
Warren Buffett terkenal menunda investasi bertahun-tahun sampai benar-benar yakin. Ia “menang” bukan karena sering bertindak, tapi karena sabar memilih momen. Di Afrika Selatan, politik apartheid melahirkan Nelson Mandela, seorang pemberani yang menyatukan Afrika Selatan dengan semua permasalahannya.
Buffet sadar, banyak orang kalah bukan karena bodoh, tapi karena tergesa-gesa. Mandela “kehilangan” 27 tahun hidupnya di penjara, tetapi menolak kehilangan masa depan bangsanya. Seorang pemenang tahu kapan harus cepat, dan kapan harus berhenti sejenak.
Sejalan dengan sikap Buffet dan Mandela, pakar ekonomi perilaku, Daniel Kahneman, dalam bukunya yang terkenal, Dual Systim Thinking menjelaskan mengapa seorang pemenang menang melalui cara berfirkirnya.
Kahneman mengatakan pemenang mampu menunda reaksi impulsif atau System 1. Ini cara berfikir tergesa-gesa, responsif tanpa berfikir. Sejatinya, pemenang adalah mereka yang mampu mengaktifkan pemikiran reflektif, perlahan atau System 2 saat mengambil keputusan krusial.
Pememang berfikir sebelum mengambil keputusan. Tidak tergesa-gesa melakukan tindakan responsif terhadap suatu hal.
Presiden AS, Abraham Lincoln menggunakan sistim berfikir ini. Dia sering dikatakan peragu, suka menunda keputusan. Presiden SBY saat itu bahkan dibully karena karena sering dianggap terlambat mengambil keputusan yang seharusnya cepat. Namun, Lincoln dan SBY adalah seorang pemimpin pemenang. Mereka tidak mencari kepuasan cepat, tetapi hasil jangka panjang.
Sejarah membuktikan, pemenang juga tidak selalu mereka yang paling kuat atau paling keras. Pemenang adalah mereka yang mampu mengalahkan naluri terburuk dalam dirinya sendiri. Sebaliknya pecundang sering kali kalah bukan oleh musuhnya, melainkan oleh egonya. Abraham Lincoln dan SBY menang karena menunda egonya.
Pada masa Mandela, banyak tokoh Afrika pasca kolonial kalah bukan oleh musuh lama, tetapi oleh dendam sendiri. Mereka menang perang, tapi kalah membangun negara, terjebak dalam siklus balas dendam, kudeta, dan konflik etnis.
Lincoln mungkin peragu, tapi dia mengambil keputusan cepat membebaskan seorang prajurit dari hukuman akibat kelalaian saat bertugas. Lincoln menyadari bahwa perbuatan besar di dunia adalah mengulurkan tangan kebawah dan membantu orang berdiri. Sifat yang tidak dimiliki pecundang.
Mandela memahami satu hal yang mendasar. Dendam yang tidak berkesudahan di Afsel saat itu adalah bentuk kerugian paling mahal. Ia sadar bahwa membalas penindasan hanya akan memperpanjang biaya sosial dan politik. Padahal Mandela bisa saja melakukan pembalasan.
Mengapa Mandela menjadi salah satu tokoh dunia yang begitu inspiratif. Karena kisah kemenangannya mengandung ajaran kepemimpinan yang sangat mendasar. Bahwa pemenang sejati mampu menahan dorongan emosional paling primitif, membalas.
Kisah Mahatmah Gandhi di India memperjelas sikap ini. Gandhi mengunci dirinya dalam komitmen moral yang konsisten untuk tidak membalas musuh-musuhnya. Ia tahu kekerasan memancing kekerasan, dan itu adalah permainan yang dimenangkan penjajah.
Richard Thaler & Cars Sunstein dalam bukunya Nudge Theory mengatakan pemenang tidak memaksa orang berubah. Membalas mungkin akan membuat orang berubah. Tapi pemenang memilih mengembangkan arsitektur pilihan (choice archtecture). Salah satunya adalah komitmen moral untuk terus bekerja. Seperti Gandhi yang bekerja dalam senyap merubah India.
Konsistensi menjadikan kebijakan menjadi default secara perlahan tapi pasti, mengantarkan kepada kemenangan.
Pemenang tidak selalu lebih kuat dan keras. Mereka hanya lebih sabar, lebih sadar akan dirinya sendiri, dan lebih jujur membaca kondisi dan ego manusia. Mereka menang bukan karena tak pernah kalah, tetapi karena tahu kapan bersabar dan bertindak serta bekerja dalam komitmen moral yang tinggi.
Komentar