Minggu pagi, Lapangan Taruna Kota Gorontalo sedikit berbeda. Alun-alun kota itu dipadati ribuan pelari berbalut jersey paduan biru kuning, larut dalam semangat Gorontalo Half Marathon (GHM) 2025. Ribuan langkah menjelma menjadi ruang kebersamaan, semangat persatuan.
GHM 2025 adalah peristiwa, sebuah momentum yang bukan sekadar lomba lari. Ia adalah metafora kolektif tentang Gorontalo yang sedang bergerak maju, membangun branding daerah. Lokasi sport tourism yang menarik dan wajib dikunjungi.
Dalam ekonomi perilaku, Cass Sunstein menjelaskan bahwa kerumunan besar dapat membentuk social norms. Ketika ribuan orang ikut, ribuan lainnya menonton, dan ribuan lagi membicarakan event ini di media sosial, timbul keyakinan baru bahwa kegiatan seperti ini adalah bagian dari identitas Gorontalo yang aktif, terbuka dan bersatu.
GHM memang sempat diwarnai drama sebelum akhirnya sukses digelar. Kolaborasi menjadi kunci suksesnya. Mulai dari perijinan, penggunan rute hingga keikhlasan warga CFD yang sengaja memberi ruang untuk pelari menuju garis finish. GHM memberi pesan, Pemerintah tidak hanya bisa menggelar event, tetapi merawat mindset masyarakat bahwa kolaborasi itu penting.
Masyarakat ikut mendukung karena merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar. UMKM merasakan manfaatnya, pariwisata menerima dampaknya berupa promosi kunjungan dan pergerakan wisatawan yang meningkat. Rasa percaya diri daerah pun meningkat
Menurut penerima Nobel Ekonomi, Richard Thaler, manusia berubah perilaku ketika diberi dorongan kecil (nudge) yang menyenangkan dan tidak memaksa. Event olahraga lari adalah nudge halus yang mengubah perilaku. Mengggeser kebiasaan ke arah gaya hidup sehat. Membangun kebersamaan dan persatuan.
Di lapangan Taruna, tidak ada sekat antara pejabat, politisi, influencer dan masyarakat. Mereka berbaur membentuk default behavior baru, bahwa olahraga bisa mempersatukan semangat membangun Gorontalo.
Semangat membangun daerah karena event lari Itu bukan ilusi semata. Tengok prakteknya diberbagai kota.
Di Jepang, Tokyo Marathon berhasil membangun “kultur kebersamaan kota” yang kemudian mempercepat banyak kebijakan publik seperti perbaikan trotoar, ruang publik, dan jalur sepeda. Warga mendukung karena merasa bagian dari perubahan. Di Inggris, saat krisis, Boston Marathon menjadi simbol persatuan kota yang memperkuat ketahanan sosial dan solidaritas publik.
Praktek baik ini bisa menjadi pelajaran penting untuk Gorontalo. Bahwa event GHM bukan acara olahraga semata. Ia menjadi trigger pembentukan budaya kolaboratif yang sangat penting untuk akselerasi pembangunan di daerah.
Kedepan, GHM perlu menjadi instrumen yang bisa membangun kepercayaan publik bahwa pemerintah mampu berkoordinasi dengan baik untuk menghadirkan kegiatan yang aman, rapi, profesional. Pemerintah tidak hanya menggelar event, tetapi merawat mindset masyarakat bahwa kolaborasi itu penting.
Pembangunan daerah tidak sekedar soal anggaran atau infrastruktur. Jauh lebih penting adalah partisipasi, kepercayaan, dan kebanggaan bersama. GHM tidak hanya meningkatkan rasa bangga dan partisipasi warga, tapi juga bisa meningkatkan hubungan emosional pemerintah dengan masyarakat.
Pakar Ekonomi perilaku, Robert Putnam, menyebut momen seperti GHM ini sebagai social glue, lem sosial yang memperkuat rasa percaya antar warga. Daerah-daerah dengan modal sosial tinggi yang terekat dalam lem sosial cenderung lebih cepat maju karena pemerintah dan masyarakatnya mau bekerja sama, bukan bekerja sendiri-sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk warna dan tantangan pembangunan, Gorontalo membutuhkan narasi yang menyatukan. GHM menawarkan itu. Satu ruang untuk olahraga, satu waktu untuk bersama dan satu tujuan untuk membangun Gorontalo.
*Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo / Pokja Forum KTI
Komentar