Harapan itu akhirnya terwujud. Melalui peletakan batu pertama, pembangunan Gorontalo Islamic Center (GIC) akhirnya bisa dimulai.
GIC adalah harapan masyarakat Gorontalo, ia tidak lahir dari ambisi sesaat, melainkan dari penantian panjang umat Islam. Dia menjadi milik batin umat. Kelanjutan pembangunannya kini berada pada keikhlasan kita semua, berdonasi.
Manusia cenderung lebih peduli pada sesuatu yang ia rasa sudah menjadi miliknya. Endowment effect yang dipopulerkan Daniel Kahneman ini seharusnya bisa mendorong keikhlasan mendonasikan sebagian kecil harta kita untuk kelanjutan pembangunan GIC.
Sejarah telah menunjukkan bahwa bangunan peradaban besar tidak selesai karena kelimpahan, tetapi karena kesadaran kolektif pada satu momen krusial. Masjid Nabawi yang awalnya sederhana, disempurnakan oleh keikhlasan dan kesadaran kolektif pada masa itu.
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalimat ini bukan sekadar slogan moral, melainkan refleksi tanggungjawab. Sayangnya, semakin banyak orang yang merasa “bertanggung jawab”, justru semakin sedikit yang bertindak.
Pembangunan GIC bisa terjebak pada logika ini, jika tidak mau menyadarinya. Semua sepakat GIC penting, tetapi masing-masing menunggu. Padahal sejarah selalu digerakkan oleh segelintir orang yang berhenti menunggu. Keberhasilan justru dimulai dari donasi kecil yang dilakukan sekarang, bukan donasi besar yang direncanakan nanti.
Dalam psikologi keputusan, present bias ini membuat kita menunda kebaikan sampai kesempatan itu menguap, menunggu keikhlasan yang tidak kunjung datang. Keikhlasan sering dipahami sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya. Padahal dalam praktik sosial, keikhlasan bisa jadi lahir dari keputusan yang “dipaksa” oleh niat.
Banyak orang bersedekah bukan karena hatinya sudah sepenuhnya ikhlas, tetapi karena ia “memaksa” dirinya untuk memberi. Dan justru setelah memberi, keikhlasan itu menyusul. Seperti orang yang memulai salat dalam keadaan malas, tetapi menemukan ketenangan di rakaat terakhir.
Dalam konteks GIC, memaksa diri untuk berdonasi hari ini bisa menjadi pintu masuk keikhlasan yang lebih besar di kemudian hari.
Sekarang, di tengah kemajuan teknologi, keikhlasan bahkan telah berada di ujung jari. Jika dulu sedekah menunggu kotak amal berkeliling, kini ia hadir di genggaman tangan alat pembayaran digital. QRIS, misalnya, bukan sekadar alat pembayaran, tetapi aristektur pilihan yang memudahkan orang berbuat baik tanpa beban prosedural.
Donasi digital memotong jarak antara niat dan aksi. Tidak perlu membawa uang tunai, tidak perlu menunda. Teknologi telah mengambil alih peran “pengingat moral” yang halus namun efektif. Setiap beranda media sosial kita dipenuhi dengan himbauan donasi.
Di sinilah keikhlasan menemukan bentuk paling modernnya. Satu sentuhan jari, satu keputusan hati. Sedekah tidak lagi soal jumlah, tetapi tentang keberanian mengambil peran. Dalam Islam, nilai amal ditimbang dari niat, bukan nominal. Dalam ekonomi perilaku, tindakan kecil yang dilakukan banyak orang memiliki dampak sosial yang jauh lebih besar daripada tindakan besar yang hanya dilakukan segelintir.
Gorontalo Islamic Center menunggu dengan cara yang sederhana. Ia tidak meminta banyak. Ia hanya butuh kehadiran kita, keikhlasan kita, meski dalam bentuk paling kecil sekalipun. Tidak usah menunggu hati benar-benar ikhlas untuk donasi. Keikhlasan justru lahir setelah kita memberi.
Hari ini, di ujung jari kita, ada kesempatan untuk ikut menyempurnakan sebuah ikhtiar umat. Satu sentuhan, satu niat baik, satu doa yang diselipkan dalam sedekah. Kelak, barangkali bukan bangunannya yang akan mengingat kita, tetapi Allah yang mencatatnya sebagai amal yang tidak pernah putus.
Keikhlasan itu sekarang sudah berada diujung jarimu. Paksakan.
*) Kadis Pariwisata Prov. Gorontalo / Pokja Forum KTI
Komentar