Progress is born when leaders meet not to defend their positions, but to expand their shared vision. (John C. Maxwell, Leadership Expert)
Kemajuan lahir ketika para pemimpin bertemu bukan untuk mempertahankan posisi, tetapi memperluas visi bersama. Pendapat motivator dunia ini mungkin bisa kita alamatkan kepada dua pemimpin Gorontalo, Anggota DPR-RI, Rahmat Gobel dan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail.
Pertemuan keduanya di malam yang sejuk sambil menikmati makan malam untuk membicarakan kolaborasi di bidang pembangunan pertanian dan kesehatan.
Ditengah keterbatasan anggaran transfer keuangan daerah (TKD), sinergi ini tentu sangat berarti bagi daerah, sekaligus menunjukkan bahwa efisiensi tidak berarti stagnasi.
Anggaran pembangunan menjadi dilematis saat ini. TKD kian ketat. Pemerintah memproyeksikan alokasi TKD turun signifikan. Berkurang 24,8% dibandingkan perkiraan (outlook) anggaran TKD tahun 2025. Artinya daerah harus ketatkan lagi ikat pinggangnya, memilih program yang betul-betul prioritas.
Di saat yang sama, daerah sedang menghadapi peningkatan kebutuhan pembiayaan publik. Mulai dari subsidi, perlindungan sosial, hingga pembangunan infrastruktur strategis. Ruang fiskal yang semakin terbatas ini seperti menentukan kebijakan yang prioritas di atas yang mendesak. Tujuannya agar roda pembangunan terus berjalan dan pertumbuhan tetap terjaga.
Karenanya kolaborasi kedua pemimpin Gorontalo tadi bisa menjadi teladan. Efisiensi anggaran tidak mesti diartikan pembangunan berhenti atau melambat. Sebaliknya ini bisa menjadi momentum berpikir lebih kreatif, adaptif dan tentu saja berkolaborasi.
Di tengah keteladanan para pemimpin publik, harus diakui birokrasi masih terjebak pada logika lama. Semakin besar anggaran, semakin besar hasil yang diharapkan. Sejatinya, logika pembangunan justru menuntut sebaliknya. Memaksimalkan hasil di tengah sumber daya terbatas dengan kreativitas dan ivonasi.
Ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, menekankan pembangunan yang tangguh bukanlah pembangunan yang boros di tengah kelimpahan anggaran, melainkan yang mendorong kreativitas sosial dan kelembagaan. Kreatifitas dan inovasi seharusnya bukan pelengkap, tetapi kebutuhan.
Ini sangat penting di tengah keterbatasan fiskal. Pemerintah daerah dituntut menata kembali prioritas. Fokus pembangunan diarahkan pada sektor dengan efek pengganda tinggi. Mulai dari pemberdayaan UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, pertanian, perikanan dan inovasi pelayanan publik.
Memilih program berbiaya kecil sambil kembangkan kreativitas dan inovasi namun berdampak besar pada masyarakat harus menjadi target utama.
Efisiensi memang tidak bisa dilepaskan dari persepsi negatif. Identik dengan pemotongan, pembatalan proyek, atau pengurangan belanja. Namun efisiensi juga dapat dilihat dari sisi sebaliknya, mengalokasikan setiap rupiah pada hasil terbaik.
Sejatinya jika pemimpin telah membuka jalan, anggota melanjutkan. ASN adalah anggota yang melanjutkan eksekusi program/kegiatan. Dalam situasi fiskal yang menantang, mereka tidak cukup menjadi pelaksana kegiatan saja, tetapi harus menjadi arsitek ide yang mampu merancang solusi inovatif.
Sayang tidak semua ASN bisa menjadi arsitek ide. Richard Thaler, pakar ekonomi perilaku mengatakan manusia cenderung mempertahankan status quo dan takut kehilangan (loss aversion). Kebanyakan diantara mereka masih terjebak bias status quo, merasa nyaman dengan kebiasaan lama daripada beradaptasi dengan cara baru. Bias ini bisa membuat ASN memilih “main aman” dengan program rutin daripada berinovasi.
ASN juga bisa terjebak loss aversion bias, individu yang takut kehilangan lebih besar dari potensi keuntungan. Ketika anggaran berkurang, sebagian ASN mungkin merasa kehilangan “pegangan”. Padahal justru di saat itulah diperlukan keberanian untuk mencari alternatif pembiayaan dan pola kerja baru. Inovasi lahir dari keberanian mencoba hal baru.
Efisiensi bukan berarti stagnasi. Sebaiknya, ia menjadi awal dari cara berpikir baru, salah satuya adalah berkolaborasi. Pemerintah perlu memperkuat kemitraan penthahelix, menggandeng akademisi, komunitas, dunia usaha, dan lembaga nonpemerintah untuk mengakselerasi program pembangunan. Pendanaan alternatif seperti CSR, crowdfunding, dan kemitraan sosial adalah solusi cerdas di tengah tantangan ini.
Birokrasi harus tetap bisa tetap melayani dengan sepenuh hati meski anggaran menurun. Sebab, yang menentukan kemajuan bukan besarnya dana, melainkan besarnya ide dan tekad bekerjasama untuk membuat perubahan.
Dan saat pemimpin merintis jalan kolaborasi, tugas ASN melanjutkannya, merubah mindset bahwa efisiensi bukan berarti stagnasi.
Komentar