Studi Banding PENAS XVII Gorontalo: Peserta Menyerap Formula Hilirisasi Agro - Maritim dari Bumi Hulontalo
25Jun'26
Tim Konten Dispar
0 Komentar
66x Dibaca
Gorontalo - Rangkaian kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Provinsi Gorontalo memasuki tahapan krusial melalui pelaksanaan studi banding lapangan.
Ratusan petani dan nelayan andalan dari berbagai penjuru Nusantara mengunjungi sejumlah sentra pertanian dan perikanan unggulan daerah setempat.Kunjungan ini bertujuan untuk memetakan dan menyerap formula sukses hilirisasi pangan berbasis komunitas sebagai instrumen penguat ketahanan pangan nasional.
Rangkaian studi banding ini dipandu dan dikawal langsung oleh tim pendamping dari Bidang Pemuda Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo, serta OPD lainnya terkait.
Kabid Pemuda, Muchlis Huntua melaporkan bahwa selama tiga hari beberapa lokasi stuban yang telah ditetapkan panitia mendapatkan antusias para peserta Penas XVII di Gorontalo, diantaranya titik yang menjadi pusat perhatian peserta adalah Kelompok Tani Organik Hutabohu di Kecamatan Limboto.
Di lokasi ini, peserta mempelajari secara mendalam praktik pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) melalui eliminasi bahan kimia sintetis. Rombongan disuguhkan teknik produksi pupuk organik mandiri dan pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL).
Pengelolaan di Hutabohu menekankan pada pentingnya menjaga struktur ekologi tanah sekaligus membangun posisi tawar petani dalam menjaga stabilitas harga gabah organik di pasar modern.
Perjalanan studi banding berlanjut ke Desa Tilihuwa, Kecamatan Limboto Barat, yang menjadi pusat pengembangan komoditas kacang tanah. Di wilayah ini, fokus pengamatan diarahkan pada sistem tumpangsari dan optimalisasi pemanfaatan lahan kering. Tata kelola pasca-panen di Desa Tilihuwa memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana keterbatasan hidrologis lahan dapat diatasi melalui manajemen budidaya yang tepat guna meningkatkan pendapatan musiman petani.
Pada sektor perikanan, peserta mengunjungi sentra budidaya ikan nila di Desa Lupoyo. Edukasi di lapangan menitikberatkan pada aspek efisiensi biaya produksi, khususnya melalui pembuatan pakan mandiri, pengelolaan sirkulasi kualitas air, serta pemilihan benih unggul. Model kemitraan terintegrasi antar-pembudidaya di Lupoyo dinilai berhasil menggerakkan simpul-simpul ekonomi perdesaan secara inklusif.
Sementara itu, kunjungan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato, Kota Gorontalo, menyajikan potret modernisasi sektor perikanan tangkap. Kawasan pesisir ini memadukan pemanfaatan teknologi digital penangkapan ikan dengan program hilirisasi produk laut.
Di KNMP Leato, hasil tangkapan nelayan tidak lagi langsung dijual dalam bentuk komoditas mentah. Kelompok wanita nelayan setempat diberdayakan untuk melakukan pengolahan produk turunan guna meningkatkan nilai tambah (value added) dan memperluas akses pasar hingga ke tingkat regional.
Plh. Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo Romi Moge, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana belajar bagi peserta PENAS XVII, tetapi juga memperlihatkan potensi besar Gorontalo dalam pengembangan pertanian dan perikanan berbasis inovasi.
"Kami berharap pengalaman yang diperoleh peserta selama kunjungan lapangan ini dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan di daerah masing-masing. Gorontalo memiliki banyak praktik baik yang layak direplikasi, terutama dalam pengembangan hilirisasi pertanian dan perikanan yang mampu meningkatkan nilai tambah produk serta kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Melalui studi banding pada PENAS XVII ini, kegigihan komunitas lokal Gorontalo dalam membangun ekosistem pangan yang mandiri diharapkan dapat menjadi rujukan nasional dalam mempercepat kedaulatan pangan yang berwawasan lingkungan.
Komentar