Admin Ekraf Admin Wisata Pohon Cinta Admin Wisata Pantai Bolihutuo
Keluar
G o r o n t a l o
Keluar
  • Jumat, 24 April 2026 / 23:20:39
  • Beranda
    • Profil
      • Profil instansi
      • Profil pimpinan
      • Visi Misi
      • Struktur Organisasi
    • Dokumen Keuangan
      • Unduh Dokumen
  • Destinasi
    • Bahari
    • Alam
    • Religi
    • Budaya
    • Sejarah
    • Wisata Ramah Muslim
  • Ekraf
    • Destinasi Prioritas
    • Fashion
    • Kuliner
    • Kriya
    • Unik
    • Fotografi
    • Seni Pertunjukan
    • Arsitektur
    • Aplikasi
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Event
  • Publikasi
    • Artikel
    • Berita
    • Galeri
    • Pengumuman
  • Agenda
    • Agenda Instansi
  • RB
    • Profil Reformasi Birokrasi
    • Profil
      • Latar Belakang
      • Program RB
      • Program Unggulan
      • Tahap Implementasi Program RB
      • Ringkasan Eksekutif
    • Berita RB
    • Manajemen Perubahan
  • Indonesia
  • English
  • Indonesia
  • English

Kontak :

  • disparprov.gtlo@gmail.com
ARTIKEL

Kita Tahu Tapi Tidak Bergerak, Sebuah Renungan Tentang Moral Dan Krisis Iklim

10Nov'25

  • Admin
  • 0 Komentar
  • 392x Dibaca

Aryanto Husain*
Senin, 10 November 2025

We are the first generation to know we are destroying the planet, and the last that can do anything about it — Barack Obama.

Tapi tajuk Harian Kompas, 6 November itu meresahkan. Tidak sadar, sejak 2015 hingga sekarang, bumi mengalami tahun-tahun terpanas. Ada tiga tahun diantaranya dengan rekor terpanas sepanjang masa menurut catatan observasi selama 176 tahun.

Karenanya, pertemuan para pemimpin dunia pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Brasil kemarin menyisakan pertanyaan. Apakah pertemuan kesekian kalinya itu juga membahas krisis moral penghuni bumi terhada urgensi tindakan mengatasi iklim global?

Kita tahu planet ini sedang sakit. Data ilmiah tentang perubahan iklim begitu jelas. Suhu global naik, laut menghangat, hutan menyusut, dan cuaca ekstrem menjadi rutinitas baru. Namun sayang, kesadaran itu tidak otomatis berubah menjadi tindakan. Kita masih menunda, berdebat, dan terus hidup seperti biasa. 

Padahal mobil kita yang terjemur di bawah sengatan matahari butuh waktu lebih lama untuk dingin kembali. Betapa banyak event outdoor yang berantakan karena ketidakpastian cuaca. Mungkin, kitapun belum sadar, pinggiran pantai yang kian tergerus abrasi karena naiknya paras muka air laut. Kita masih sibuk menunda. 

Perubahan iklim terus berjalan. Meski lambat tapi dampaknya makin terasa. Ia merusak secara perlahan. Badai yang kian kuat, gagal panen yang makin sering terjadi hingga suhu yang makin panas. Sepertinya memang tidak menimbulkan ledakan dramatis yang menggugah emosi. Tapi dia adalah pembunuh. Membunuh kehidupan secara perlahan.  Setiap kenaikan suhu berarti lebih banyak kelaparan, pengungsian, dan kerugian material dan non-material.

Akar masalahnya jelas. Krisis iklim bukan hanya soal teknologi atau kebijakan, tapi soal kegagalan moral kolektif. Kita tahu, tapi tak bergerak. Ada intention-behavior gap, kesenjangan antara niat baik dan tindakan nyata. Berniat mengurangi jejak karbon, tapi sedikit yang benar-benar menindaklanjut kesepakatan yang dibangun. Rebahan dibawah selimut tebal ditengah dinginnya AC sambil menonton film dokumenter tentang iklim.  Membakar sampah, menggunakan BBM berbahan baku fossil, berlomba pamerkan pesawat jet tercanggih meski sadar itu menambah emisi. Ironis.

Ancaman krisis iklim yang seharusnya menuntut pengorbanan sekarang, kita tunda untuk kesenangan. Present bias membuat kita lebih mementingkan kenyamanan hari ini daripada keselamatan masa depan. Otak kita memang hanya segera bereaksi terhadap ancaman cepat dan konkret. Sebaliknya pelan jika menghadapi ancaman yang abstrak atau bertahap. Akibatnya, kita mengalami cognitive dissonance. Tahu harus bertindak, tapi tidak merasakan urgensi untuk melakukan tindakan nyata.

Climate change is a failure of cooperation, not of knowledge, kata Elinor Ostrom. Moral kolektif kita pecah. Dunia sepakat bahwa perubahan iklim berbahaya, tapi tak ada yang mau menanggung beban lebih dulu. Negara maju menyalahkan negara berkembang karena eksploitasi hutan, sementara negara berkembang menuding negara maju sebagai penyebab utama emisi historis.
 
Jika jutaan manusia yang merasakan dampak langsung krisis iklim marah, mungkin Donald Trump yang paling pantas menerimanya. Dia seakan tidak peduli, menganggap krisis ini fiktif. Para Kepala Negara menudingnya pembohong dengan manuvernya yang kembali menolak isu perubahan iklim. Trump bahkan langsung menarik AS dari Perjanjian Paris.

Trump mungkin tidak sendirian. Jutaan manusia lainnya juga mungkin tidak peduli, tetap melakukan eksploitasi sumberdaya alam secara ekstraktif. Memamerkan kehidupan hedonis yang menyisakan persoalan lingkungan. Availability heuristic ini menganggap aktivitas merusak itu tidak apa-apa. Akibatnya, kita mengalami cognitive dissonance. Tahu harus bertindak, tapi tidak merasakan kemendesakannya. 

Padahal, perlahan resikonya semakin nyata. perkemahan Bongohulawa, Gorontalo yang sedang menggelar Peran Saka Pramuka kemarin menjadi saksi nyata itu. Panas dan hujan datang silih berganti hanya dalam hitungan hari. Beberapa peserta terpaksa harus dirawat karena tidak tahan hawa panas atau demam karena kehujanan.

People often compensate moral actions with immoral ones, it’s how our brain maintains self-image — Nina Mazar, Behavioral Economist.

Kesadaran kadang terlihat. Kita bawa tumbler kemana-mana. Tapi membeli berbagai produk yang seringkali tidak dibutuhkan. Menanam pohon, lalu merasa berhak menebang apa saja untuk kebutuhan. Perusahaan kita memasang label hijau dan meluncurkan kampanye keberlanjutan, namun orientasinya tetap kepada bahan baku murah, yang tidak ramah lingkungan. 

Moral licensing, merasa sudah cukup baik untuk “mengimbangi” kerusakan yang diakibatkan menjadi puncak kegagalan perilaku yang tidak kita sadari. Kompensasi aksi ini justru menjadikan krisis iklim seakan diikuti krisis moral penghuni bumi. 

Solusinya bukan sekadar menyeru agar masyarakat lebih “peduli”. Moralitas tidak cukup diajarkan. Tapi harus didahului contoh, dan selanjutnya diorganisir dalam sistem yang mendorong perilaku benar. Bumi tidak menuntut tidakan yang sempurna, hanya jujur dan konsisten, dan itu harus dimulai dari pemimpinnya. Dari Donald Trump, pemegang otoritas salah satu kekuatan dunia, pemimpin dunia lainnya, local champions hingga  kita semua sebagai pemegang otoritas keputusan kehidupan pribadi. 

Kita hentikan krisis iklim dengan memperbaiki krisis moral terlebih dahulu!

*Kadis Pariwisata Prov. Gorontalo, Pokja F-KTI

  • Tags:
  • -

Bagikan :
Berikutnya
Hujan Deras tak Surutkan Niat Warga Saksikan Gorontalo Karnaval Karawo

Komentar

Tinggalkan Komentar

Artikel Populer

Festival Gorontalo Karnaval Karawo 2025, Wamenpar Dorong Masuk Top 10 Event Nasional

15 Oktober 2025

Festival Hulonthalo Art and Craft dan Karnaval Karawo Jadi Momentum Bangun Ekonomi Kreatif Gorontalo

15 Oktober 2025

Hujan Deras tak Surutkan Niat Warga Saksikan Gorontalo Karnaval Karawo

15 Oktober 2025

Tags

Jl. Jamaludin Malik No.41, Kec. Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Indonesia..


Contact Center : (0435) 828626


Email : disparprov.gtlo@gmail.com

Menu

  • Berita
  • Artikel
  • Galeri
  • Event
  • Destinasi
  • Ekonomi Kreatif
  • Facebook
    Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo

Berita Terbaru

24Apr'26

Tim Konten Dispar

Kadis Parekrafpora Apresiasi Pengukuhan APPINKA Provinsi Gorontalo

24Apr'26

Tim Konten Dispar

Pelantikan APPMI Gorontalo, Kadisparekrafpora Tekankan Inkubasi dan Digitalisasi Fashion

23Apr'26

Admin

Disparekrafpora Dorong Hak Paten Merek Pelaku Ekraf Melalui Kolaborasi dengan Kemenkum

© 2023 Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.