Tradisi Koko’o Didorong Jadi Event Tahunan Pariwisata Gorontalo
19Feb'26
Tim Konten Dispar
0 Komentar
409x Dibaca
Tradisi Koko’o atau ketuk sahur yang telah hidup sejak tahun 1962 kembali semarak mewarnai bulan suci Ramadan di Gorontalo. Tradisi membangunkan sahur dengan bunyi pentungan dan bambu ini dinilai sebagai warisan budaya religius yang unik dan layak didorong menjadi agenda tahunan daerah.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menyampaikan bahwa Koko merupakan tradisi masyarakat pesisir seperti Talumolo, Siendeng, Kampung Bugis dan sekitarnya yang dilaksanakan sepanjang bulan Ramadan.
“Koko’o ini menarik karena dilaksanakan selama satu bulan penuh Ramadan. Dengan cara mengetuk bambu atau pentungan untuk membangunkan sahur, ini menjadi bentuk kreativitas pemuda pesisir yang patut diapresiasi,” ujar Sultan.
Pada pelaksanaan tahun ini, terdapat kurang lebih tujuh kelompok atau komunitas koko’o yang dilepas di masing-masing titik yang telah di tentukan. Khusus di tingkat Provinsi Gorontalo, pelepasan dilakukan oleh Sekretaris Daerah untuk komunitas Koko’o Lotu.
Menurut Sultan, tradisi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai atraksi budaya dan wisata religi yang dapat menarik kunjungan wisatawan ke Gorontalo.
“Ke depan, ini akan kita dorong menjadi event daerah dan dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadan. Tradisi ini sangat positif dalam rangka mendorong budaya lokal menjadi atraksi menarik yang bisa disaksikan wisatawan,” jelasnya.
Ia menambahkan, koko’o atau beduk sahur di Gorontalo memiliki keunikan tersendiri karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua. Mereka berkeliling kampung sejak pukul 00.00 hingga menjelang waktu sahur dan salat Subuh.
Menariknya, kegiatan ini murni atas inisiatif dan gotong royong masyarakat. Warga secara swadaya mengumpulkan dana dan mengorganisir pelaksanaannya, sementara pemerintah berperan memberikan dukungan dan arahan agar kegiatan berlangsung tertib, aman dan lancar.
“Kami hanya men-support dan memberikan guidance agar pelaksanaan Koko’o berjalan tertib, aman, tanpa benturan dan tanpa hal-hal yang bisa menyebabkan kecelakaan. Apalagi ada sekitar tujuh kelompok yang dilepas malam ini,” tambahnya.
Sultan berharap, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, tradisi koko’o dapat terus berkembang, selalu dinantikan setiap Ramadan, dan menjadi salah satu agenda tahunan resmi Provinsi Gorontalo.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai religius yang kuat, tradisi koko’o diharapkan tidak hanya menjadi pengingat sahur, tetapi juga simbol harmoni budaya dan identitas masyarakat Gorontalo.
Komentar