SDGs, Bukan Sekadar Agenda Global, Tapi Cermin Diri
17Nov'25
Admin
0 Komentar
482x Dibaca
Aryanto Husain Senin, 17 November 2025
Gorontalo patut berbangga kembali. Bersama Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, daerah ini masuk dalam nominasi 5 provinsi terbaik pada ajang Indonesia’s SDGs Action Awards 2025. Jika bagi banyak daerah ini adalah harapan. Bagi Gorontalo, ini adalah bukti cermin diri menyikapi agenda global, SDGs.
SDGs adalah cermin integritas kebijakan. Banyak daerah menggunakan isu global ini hanya sebagai jargon. Gorontalo menjadikannya prinsip dalam mendorong kebijakan yang memihak. Pengusulan Geopark atau ajakan menanam pohon secara masal sepanjang jalan outer ring road adalah refleksi kebijakan jangka panjang terhadap isu ini.
Menghadirkan kebijakan jangka di tengah gempuran kepentingan pragmatis tidaklah mudah. Terlebih dalam masa anggaran ketat yang menuntut agenda pembangunan prioritas. Ditengah trade-offs ini, hanya pemimpin sejati yang mampu menjadikan SDGs bukan proyek simbolik, tetapi kompas moral dalam tata kelola kebijakannya.
SDGs memang bukan sekedar tentang target, apalagi hanya jargon. Tool pembangunan berkelanjutan ini bicara tentang siapa yang tertinggal. No one left behind. Prinsip utama SDGs adalah memastikan tidak ada individu atau kelompok yang tertinggal atau terpinggirkan dalam proses pembangunan.
Amartya Sen pernah mengatakan development is about creating freedom for people. SDGs mendorong kita bertanya, apakah pembangunan sudah membebaskan manusia atau justru membuat sebagian orang terus berjuang di bawah bayang-bayang ketidaksetaraan?
Dan di saat bumi yang semakin panas, adakah yang bertanya. Pembangunan ini untuk siapa? Apakah harus mengorbankan bumi dengan merusaknya? Bagaimana dengan generasi mendatang, apakah mereka masih bisa menikmati yang kita rasakan hari ini?
Isu kemiskinan, ketidaksetaraan maupun krisis iklim adalah refleksi sekaligus menjadi ujian moral kita tentang tanggung jawab terhadap keberlanjutan planet ini. Sayangnya, present bias dan temporal discounting yang membuat kita menilai masa depan terlalu murah, menyisakan krisis moral. Bahwa kita tega mewariskan bumi yang lebih buruk kepada anak cucu.
There is no Plan B because there is no Planet B, kata Ban Ki-moon, Sekjen PBB saat itu. Jika planet ini rusak, tidak planet lain yang siap dihuni sampai saat ini. Maka tidak ada jalan lain. SDGs harus dipastikan tercapai agar kepastian pembangunan berkelanjutan bisa dihadirkan, dan generasi mendatang tidak perlu mencari planet lain untuk tempat tinggal.
Namun keberlangsungan planet bumi tidak sekedar tentang kebijakan para pemimpin. Ini adalah tanggung jawab setiap penduduk bumi. No one left behind seharusnya juga untuk memastikan bahwa setiap orang mengambil peran. Sederhana, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini.
SDGs menuntut perubahan perilaku hidup kita. Mulai dari pola konsumsi kita yang tidak menyisakan limbah, transportasi yang membuang emisi, hingga pola produksi yang ramah lingkungan. Semuanya harus didorong dengan kesadaran tentang tanggung jawab.
Masalahnya, tidak semua penghuni planet ini sadar. Mereka terjebak dengan status quo bias dan present bias. Status quo bias, misalnya, membuat manusia cenderung mempertahankan cara lama meski tidak ramah lingkungan. Present bias, sifat yang selalu fokus kepada hari ini, menyebabkan manusia cenderung mengabaikan isu besar ini. Mereka mungkin berpandangan isunya global dan jangka panjang. Padahal dampaknya terasa jauh di masa depan dan sudah dirasakan.
Individu manusia tidak selalu bertindak secara rasional seperti yang dipahami teori ekonomi klasik. Mereka adalah mahluk homo sapiens, sering mengambil keputusan yang tidak rasional, dipengaruhi emosi, bias kognitif, dan norma sosial. Hal ini berimplikasi pada cara berfikir dan bertindak serta cara hidup. Perubahan perilaku terhadap bumi yang gagal bukan karena ketidakpahaman namun oleh kebiasaan sosial yang mengakar dan susah dirubah.
Perubahan itu memang harus dari dalam, dari kesadaran individu. Bahwa setiap warga harus menantang zona nyaman. Jika kita takut kehilangan jiwa karena kecelakaan, kenapa tidak takut dengan bencana global yang juga bisa mengancam nyawa manusia.
Kita membutuhkan rasa makna. SDGs memberi ruang bertanya. Apa yang bisa kita kontribusikan? Peduli sampah, hemat energi, menanam pohon, atau solidaritas sosial adalah isu bersama dan membutuhkan tindakan kolektif.
SDGs bukan hanya tugas birokrasi atau para pemimpin saja. Agenda global ini juga menjadi tanggung jawab setiap individu, warga negara. Karena SDGs adalah cerminan diri kita akan kesadaran pembangunan berkelanjutan yang dampaknya bisa dirasakan juga oleh generasi yang akan datang.
*Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo / Pokja Forum KTI
Komentar